Ekonom Ungkap Potensi Kerugian RI Imbas Perang Tarif Trump

Jakarta, CNN Indonesia —
Ekonom senior INDEF, M. Fadhil Hasan mengungkap sejumlah potensi kerugian ekonomi RI buntut penetapan tarif baru produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 32 persen yang akan berlaku pekan ini.
Fadhil mengungkap bahwa jumlah ekspor Indonesia ke AS selama ini berada di angka 10,5 persen dari keseluruhan ekspor. Meski jumlahnya cukup besar, namun tak lebih besar dibanding negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Thailand.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya kira sekitar 10,5 persen atau 10,3 persen sell daripada ekspor Indonesia ke Amerika itu, dari total ekspor Indonesia itu. Jadi cukup besar ya,” kata Fadhil dalam diskusi daring, Jumat (4/4).
Fadhil menilai dampak tarif resiprokal atau timbal balik yang ditetapkan AS hanya akan berdampak moderat terhadap perdagangan RI. Dampak terutama akan terasa terhadap sejumlah produk ekspor RI ke AS.
Sejumlah produk itu misalnya tekstil, garmen, minyak sawit, hingga alas kaki. Namun, dampak tersebut tidak hanya akan diterima Indonesia, namun juga negara-negara lain.
“Bahkan mungkin bagi Vietnam atau Malaysia itu akan menghadapi level tarif yang lebih tinggi dibanding Indonesia,” kata Fadhil.
Meski begitu, Fadhil mewanti-wanti pemerintah untuk segera melakukan antisipasi. Sebab, meski dari sisi nilai ekspor hanya 10,5 atau 10,3 persen, namun surplus perdangan dengan AS cukup besar mencapai USD16,8 miliar.
“Jadi, walaupun dari sisi pangsa ekspornya itu sekitar 10,3 persen tapi dari sisi trade itu surplus paling besar dari Amerika,” kata dia.
Di sisi lain, Fadhil mengungkap bahwa kenaikan tarif resiprokal juga bisa berdampak terhadap depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, termasuk kenaikan barang-barang impor RI di AS.
“Kita tahu bahwa dengan adanya kebijakan ini maka produk yang dijual di Amerika itu kan semakin mahal ya, harganya. Dan itu kemudian memberikan tekanan terhadap inflasi tentunya,” kata Fadhil.
“Jadi saya kira dampaknya kalau terjadi depresiasi nilai tukar rupiah itu spill over nya itu ke mana-mana. Kepada hutang. Kepada fiskal dan seterusnya. Jadi selain dampak dagang tapi dampak terhadap depresiasi nilai tukar rupiah itu juga perlu kita antisipasi begitu,” imbuhnya.
(fra/thr/fra)