Ekonomi

Wamenlu RI Jelaskan Dampak Perang Dagang AS vs China buat RI



Jakarta, CNN Indonesia

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengungkapkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China memberikan dampak langsung terhadap industri, termasuk bagi Indonesia.

Menurutnya, ketegangan ekonomi antara kedua negara adidaya ini semakin memperumit lanskap perdagangan global.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Sekarang dengan kondisi geopolitik ini berbeda. Ekonomi Amerika Serikat dengan China itu sangat intertwined. Ekonomi Amerika Serikat dengan Asia juga sangat-sangat mempengaruhi. Jadi tidak bisa lagi seperti dulu, completely separated,” ujar Havas dalam seminar Dampak Perang Tarif Terhadap Peluang Ekspor Indonesia di Menara Kadin, Jakarta Pusat, Selasa (25/3).

Ia menekankan Indonesia perlu berhitung dengan cermat dalam menghadapi persaingan geopolitik AS dan China yang semakin tidak menentu.



“Kalau ada dua orang bertengkar, ada pihak ketiga yang senang hati. Jadi sekarang kita mau pihak mana? Mau yang bertengkar atau pihak ketiga?” katanya.

Havas menjelaskan saat ini AS telah menerapkan tarif 25 persen untuk Kanada dan Meksiko, sementara China dikenakan tarif 10 persen. Tarif serupa juga tengah direncanakan untuk Eropa.

Jika kebijakan ini terus berlanjut, ia memperingatkan kondisi ekonomi dunia akan semakin tidak stabil.

Selain itu, ia menyebut Indonesia sendiri masuk dalam daftar ‘Dirty 15’, kelompok negara yang berpotensi dikenai tarif tinggi oleh AS. Namun, daftar ini belum diumumkan secara resmi.

Menurutnya, Indonesia memiliki beberapa strategi untuk merespons dampak perang dagang ini, termasuk tetap menjalin hubungan erat dengan AS, mengidentifikasi produk yang dapat menggantikan barang-barang dari negara yang terdampak tarif, serta melakukan pendekatan kepada AS untuk memasukkan produk Indonesia ke dalam pasar mereka.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan Indonesia tidak akan menerapkan kebijakan proteksionisme terhadap AS.

Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kemendag Johni Martha menyebut langkah tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi ekspor Tanah Air.

“Sebisa mungkin kami di perdagangan tidak menghalangi produk-produk, baik dari India maupun Amerika, khususnya dari Amerika, terutama dalam kondisi saat ini,” ujarnya.

Johni juga blak-blakan mengenai potensi perang dagang AS yang bisa menyasar Indonesia. Ia mengungkapkan AS hingga kini masih enggan membahas liberalisasi perdagangan dan penghapusan tarif, yang bisa berujung pada hambatan dagang bagi Indonesia.

“Amerika tidak mau untuk bicara soal trade liberalization, khususnya penghapusan atau pengurangan tarif. Sehingga diskusi yang ada lebih ke kerja sama dan framework perdagangan, tapi tanpa ada keuntungan di akses pasar,” katanya.

Lebih lanjut, Johni menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi ketidakpastian ini. Salah satunya adalah dengan menghidupkan kembali forum Trade & Investment Framework Agreement (TIFAs) yang menjadi satu-satunya platform dialog perdagangan resmi antara Indonesia dan AS.

“Kami akan berupaya mengejar manfaat ekonomi yang lebih konkret melalui forum ini,” tegasnya.

(del/rds)


[Gambas:Video CNN]




Source link

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button